Banyak orang tua ingin anaknya pandai mengatur uang — tapi bingung dari mana harus mulai. Padahal, mengajarkan anak soal keuangan tidak harus rumit atau pakai istilah yang susah dimengerti.
Menurut perencana keuangan bersertifikat Mike Rini, kunci utamanya bukan menghakimi anak, melainkan memberikan pilihan. Orang tua berperan sebagai pengarah, bukan penentu. Dan kabar baiknya — pelajaran ini bisa dimulai dari kebiasaan kecil sehari-hari di rumah.
1. Mulai dari Hal Paling Sederhana
Sebelum bicara soal menabung atau anggaran, ajak anak menghargai apa yang sudah ada. Mike Rini menyebut bahwa membiasakan anak menghabiskan makanan di piringnya adalah bentuk nyata dari gaya hidup berkesadaran — atau yang disebut mindful consumption.
Dari situ, anak belajar bahwa setiap hal ada nilainya dan tidak boleh disia-siakan. Ini pondasi awal sebelum mengajarkan nilai uang.
2. Kenalkan Perbedaan "Butuh" dan "Ingin"
Ini pelajaran penting yang sering dilewatkan. Libatkan anak saat membuat daftar belanja. Ajari mereka membedakan mana barang yang benar-benar dibutuhkan dan mana yang sekadar diinginkan.
Misalnya, saat ke minimarket, tanyakan ke anak: "Ini perlu kita beli sekarang atau bisa nanti?" Kebiasaan kecil ini melatih mereka berpikir sebelum bertindak — kebiasaan yang akan sangat berguna saat mereka dewasa.
3. Beri Uang Saku dan Biarkan Mereka Belajar
Begitu memasuki usia sekolah dasar, uang jajan bisa menjadi sarana belajar mengelola uang sendiri. Memberikan uang saku mingguan mengajarkan cara berhemat dan menyimpan uang untuk kebutuhan mendatang.
Jangan langsung diatur semua — biarkan anak membuat keputusan sendiri, termasuk kalau sesekali salah. Dari situlah mereka belajar.
4. Pakai Rumus Sederhana: 50-30-20
Untuk anak yang sudah lebih besar, ajarkan prinsip 50-30-20: 50% uang saku untuk kebutuhan sehari-hari, 30% untuk keinginan, dan 20% untuk ditabung.
Rumus ini mudah diingat dan langsung bisa dipraktikkan. Tidak perlu buku catatan yang rumit — cukup tiga amplop kecil pun sudah cukup untuk anak memulai.
5. Jadikan Menabung sebagai Kebiasaan, Bukan Kewajiban
Tekankan pada anak bahwa menabung tidak harus dalam jumlah besar. Menabung lebih baik dimulai dengan nominal kecil tapi rutin.
Untuk anak kecil, celengan fisik lebih menarik karena mereka bisa melihat langsung uangnya bertambah. Saat mereka sudah lebih besar dan paham konsep yang lebih kompleks, buatkan rekening di bank dan jelaskan proses menabungnya.
6. Jadilah Contoh Nyata
Ini yang paling penting dan sering dilupakan. Anak cenderung mencontoh perilaku orang tua, sehingga penting untuk menunjukkan perilaku yang sesuai dengan yang diajarkan. Anak tidak akan punya kebiasaan hemat jika orang tua justru menunjukkan perilaku boros.
Kalau kita ingin anak bijak soal uang, kita sendiri harus lebih dulu mencerminkan itu dalam keseharian.
Kapan Waktu yang Tepat Mulai Mengajarkannya?
Tidak ada kata terlalu dini. Dari usia yang sangat muda, anak sudah bisa mulai belajar konsep dasar seperti pengeluaran dan penghematan. Semakin awal dimulai, semakin kuat kebiasaan yang terbentuk.
Bagi para pensiunan yang kini mendampingi cucu atau anak yang sudah berkeluarga, momen sehari-hari — saat belanja, saat makan, saat memberi uang jajan — semuanya bisa jadi kesempatan berharga untuk menanamkan nilai ini.
Karena pada akhirnya, mengajarkan anak soal uang bukan cuma soal angka. Ini soal membentuk karakter yang bertanggung jawab sejak kecil.